Untung Atau Buntung Divestasi?

Divestasi merupakan cara untuk mengurangi aset dan saham yang bisa dilakukan dengan menjual saham ataupun aset barang. Berbanding terbalik dengan investasi yang menambah saham atau membeli saham ataupun aset. Indonesia melalui BUMN, PT Indonesia Asahan Aluminium pada Kamis (12/9/18) telah menandatangani perjanjian divestasi Freeport dengan Freeport McMoran.

Sebuah keuntungan besar

Proses penandatanganan dilakukan oleh CEO Freeport – McMoran, Richard Adkerson dengan Direktur Utama Inalum, Budi Gunadi Sadikin di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Dengan dihadiri oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati dan Menteri BUMN, Rini Soemarno. Menteri LHK, Siti Nurbaya dan juga Menteri ESDM, Ignasius Jonan juga hadir pada penandatanganan tersebut.

Divestasi Freeport adalah salah satu cara pemerintah untuk mengakuisisi PTFI dengan membeli kepemilikan saham 100% PT Indocopper Investama yang memiliki 9,36% saham di PTFI. Dengan membelinya, pemerintah dapat memiliki 51% saham di PTFI. Yang berarti Indonesia mendapat keuntungan besar dari PTFI dimasa yang datang setelah proses divestasi selesai.

Ancaman kerugian

Namun, menurut Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP), Bisman Bhaktiar ada beberapa hal yang masih menjadi pengganjal divestasi. Hal tersebut ia rasa sangat disayangkan jika belum dituntaskan saat divestasi berlangsung. Yaitu:

  • Pembangunan smelter

Pembangunan smelter yang belum terealisasikan dianggapnya sebagai ancaman. Sebab, Indonesia bisa saja terbebani nantinya jika pembangunan ini belum juga terselesaikan. Padahal, PTFI telah diberikan waktu sejak tahun 2014, namun hingga kini belum juga direalisasikan.

  • Isi perjanjian tentang tanggung jawab

Tanggung jawab yang harus dijabarkan mengenai kewajiban yang dilaksana sebelum divestasi berlangsung sejatinya harus dituntaskan.

Jika tidak, maka pelemparan tanggung jawab bisa saja terjadi meskipun Indonesia mempunyai saham yang besar.

  • Terlalu mahal

Menurut Bisman, harga 3,85 miliar dolar Amerika tersebut dirasa masih mahal. Karena dirasa tidak sebanding dengan keuntungan yang didapat nantinya.

Meskipun begitu, menurut Fahmy Radhi, seorang pakar ekonomi UGM, menganggap bahwa sejumlah uang tersebut wajar untuk divestasi Freeport mengingat peralatan yang dipunyai memiliki kalkulasi harga tinggi.

Related posts: